Posisi Indonesia yang berada di Khatulistiwa membuat wilayah Indonesia memiliki ciri tropis serta kondisi hidrologis yang memicu beberapa bencana khas, seperti angin putting beliung, hujan ekstrim, banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Meskipun begitu, setiap daerah memiliki pengalaman kebencanaan masing-masing. Bahkan, dalam lingkup terkecil yaitu desa, dapat menghadapi jenis bencana, tingkat risiko, dan dampak yang berbeda-beda sesuai dengan kondisi lingkungan dan karakteristik daerahnya Pengalaman tersebut menjadi bagian dari sejarah lokal yang tidak hanya merekam peristiwa masa lalu, tetapi juga menyimpan pelajaran berharga bagi masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Indeks risiko bencana per Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Timur, Pacitan menempati urutan ke-5 dari 38 Kabupaten/Kota (Agung M, 2018). Sebagai bagian dari Pacitan, Desa Pagerlor merupakan salah satu desa di Kecamatan Sudimoro. Secara geografis, wilayah desa ini didominasi oleh bentang alam perbukitan tipografi wilayah berupa lereng dengan batuan karst, serta ketinggian yang berkisar antara 150-200 mdpl dengan kemiringan lereng bukit yang beragam. Karakter tersebut juga mendukung aktivitas agraria dan lingkungan desa. Meskipun begitu, bentang alam ini menjadikan Pagerlor memiliki kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi, terutama saat curah hujan meningkat. Lereng-lereng berpotensi longsor, dan sungai dapat meluap ketika menerima debit yang terlalu banyak.
kaskus.co.id
Salah satu peristiwa yang menjadi bagian penting dalam sejarah kebencanaan daerah adalah bencana hidrometeorologi pada akhir tahun 2017 akibat Siklon Cempaka. “Dampak siklon mulai dirasakan sejak 27 November 2017 angin kencang, gelombang besar laut, hujan sangat lebat, tanah longsor dan banjir,”ujar Danang Samsurizal, ST, Manager PUSDALOPS BPBD DIY, di Sekolah Pascasarjana UGM, Kamis (7/12). Pada tahun 2017 ini, bencana banjir dan longsor memang banyak terjadi daripada tahun sebelum dan setelahnya. Bencana banjir dan tanah longsor pada November 2017 ini, diakibatkan curah hujan yang sangat tinggi dan terjadi selama 2 hari berturut-turut. Skala besar, yaitu kabupaten Pacitan, bencana ini memakan korban jiwa hingga belasan orang. Bahkan akses menuju Pacitan dari Ponorogo dan Wonogiri sempat terputus. Dampak signifikan lainnya adalam padamnya listrik 80 desa di Pacitan yang rusak atau sengaja dimatikan demi keselamatan. Pinto Raharjo sekalu Deputi PLN menyebutkan, “...Penyulang Cokrokembang, dengan desa yang padam meliputi Desa Wonokarto, Wonosidi, Wonodadi, Wonoasri, Pagerkidul, Pagerlor, Cokrokembang, Tanjungpuro, Tanjunglor, Hadiluwih, Hadiwarno, Pagerjo, Bogoharjo dan Wono...” (Pacitanku, 11/2017)
pacitanku.com
Tidak berbeda jauh dengan yang terjadi di Pacitan secara umum, dan juga telah disebutkan oleh Deputi PT PLN. Siklon cempaka ini turut terjadi dan berdampak besar di Desa Pagerlor. “Itu lho, balai desa itu tenggelam itu, kursi-kursinya semua basah, tergenang” ucap Bapak Sajuri selaku saksi mata dan juga sekretaris desa. Warga lainnya juga bersaksi, “waktu itu saya masih pemuda, 9 tahun lalu, saya gendong kerabat saya yang rumahnya dibawah, orang-orang juga berbondong-bondong keatas, waktu itu emang parah banget mbak, inget banget aku.”, ujar Mas Agung, salah satu tokoh masyarakat di Dusun Tanggalan.
Desa Pagerlor tidak menjadi pusat perhatian pemberitaan pada periode bencana tersebut. Meskipun begitu, peristiwa tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga menjadi titik penting untuk meningkatkan kesadaran mitigasi dan kesiapsiagaan bencana hingga tingkat desa. Pengalaman yang berbeda setiap warga menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Pagerlor. Pengalaman inilah yang menjadi tolok ukur dan pijakan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi masa yang akan datang. Pengetahuan mengenai daerah yang rawan, perubahan kondisi lingkungan sekitar dan potensi bahaya menjadi hal yang penting untuk mengenali tanda-tanda terjadinya bencana bekal yang dapat membantu mengambil langkah yang tepat dan cepat. Bencana juga memperlihatkan kuatnya nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat desa.
Sejarah Bencana tidak lagi dipandang sekadar sebagai catatan mengenai peristiwa yang telah berlalu. Namun, menjadi sumber yang dapat dimanfaatkan dalam penyusunan masterplan desa tangguh bencana. Melalui pemahaman terhadap peristiwa masa lalu, dan mengambil pelajaran darinya, masyarakat desa dapat lebih mudah mengenali wilayah yang berpotensi terdampak, menyusun langkah mitigasi yang sesuai dengan kondisi lokal baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia, serta memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana di masa yang akan datang. Dengan menjadikan pengalaman tahun 2017 sebagai bagian dari pembelajaran bersama, Desa Pager Lor dapat terus memperkuat kesiapsiagaan dan menyusun langkah-langkah pembangunan yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.
disusun oleh:
Khansa Dhia Hanung Putri
KKN-PPM UGM Karsa Saka Sudimoro 2026